Kamis , 19 Oktober 2017, 19:00 WIB

Cara Warga Gaza Ungkap Kondisi Akibat Blokade

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Agung Sasongko
Penduduk Gaza, ilustrasi
Penduduk Gaza, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para penduduk mungkin tidak bisa meninggalkan Gaza tanpa izin Israel atau Mesir, namun foto mereka bisa.

Kholoud Nassar dan Fatma Abu Musabbeh, dua wanita itu termasuk sejumlah kecil selebgram yang berada di daerah kantong Palestina yang diblokade. Mereka menunjukkan pada followers mereka, sebuah sisi berbeda yang banyak diceritakan dunia, tentang tanah air mereka.

"Saya melihat Instagram sebagai jendela," kata Nassar (26), dengan mengenakan jilbab merah muda dan mengutak-atik sebuah mobil mainan yang memiliki banyak gambar.

Mosabbeh (21) setuju dan mengatakan, ketika ia membuka Internet, ia dapat berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia.

Keduanya memiliki lebih dari 100.000 followers di Instagram dan mengatakan bahwa mereka dikenali beberapa kali oleh para penduduk di wilayah kecil yang menampung dua juta orang itu.

Di daerah kantong yang ditutup oleh Israel ke Timur dan Utara, Mesir ke Selatan dan Laut Tengah ke Barat, tidak mungkin warga Gaza pergi tanpa izin. Tak satu pun dari wanita tersebut, bisa meninggalkan Gaza dalam lebih dari satu dekade ini.

Israel juga menolak memberikan izin bagi wisatawan untuk mengunjungi jalur tersebut, sehingga kebanyakan orang di luar, hanya bisa membayangkan bagaimana kehidupan di sana.

Dan dengan tiga perang sejak 2008 antara penguasa strip Hamas dan Israel, banyak orang berpikiran bahwa pusat Gaza sudah mengalami kehancuran, kemiskinan dan penderitaan.

Tetapi dua wanita itu dengan menggunakan Instagram, mereka fokus pada gambar dengan caption dan argumen politik, untuk menunjukkan sisi lain dari wilayahnya.

Perang adalah bagian dari Gaza, tapi tidak semua Gaza. "Saya ingin menunjukkan wilayah yang lebih luas lagi di Gaza, sama seperti wilayah di negara lain,"ungkap Nassar kepada AFP di sebuah kafe dekat pantai di Kota Gaza.

Mosabbeh setuju bahwa tujuannya adalah untuk mengubah persepsi tentang Gaza dari masalah politik. Untuk menunjukkan sisi baiknya, itulah hal yang paling penting. Jauh dari kehancuran, blokade dan perang, kata dia.