Jumat , 02 Juli 2010, 01:13 WIB

Peluk Islam tak Halangi Wanita AS Jadi Promotor Konser Hip-Hop

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
New York Times
Christie Z-Pabon, meski beralih memeluk Islam, kecintaan terhadap hip-hop jalan terus.
Christie Z-Pabon, meski beralih memeluk Islam, kecintaan terhadap hip-hop jalan terus.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK--Ketika taman-taman umum dan tempat bermain di Bronx diwarnai dengan musik baru bernama hip hop, Christie Z-Pabon adalah seorang siswa muda sekolah Katholik di Perryopolis, AS. Ia mendengar lagu rap pertamanya di sebuah acara dansa sekolah, "Rapper Delight" yang dibawakan Sugar Hill Gang, yang beberapa dekade kemudian ia katakan, "Itulah mulanya".

Ia mulai mengoleksi setiap musik hip-hop yang bisa diperolehnya. Christie, bahkan rela begadang hanya untuk merekam pertunjukan radio yang memutar lagu favoritnya.

Ia mengaku kejangkitan dengan pesta ruang terbuka berlabel "park jams" pertunjukan musik spontan di taman di mana penari muda dan tua di New York, main mata atau saling menatap di depan permainan DJ. "Saya pernah begitu kesal tak berada di sana bersama mereka," ujarnya. "Bila itu terjadi saya akan menangis seperti kehilangan segalanya," tutur Christie.

Kini, ia tidak lagi bisa berkumpul bersama hiruk-pikuk dan celotehan musik hip-hop di jalanan Bronx seperti lebih dari 30 tahun lalu. Ia menyatakan telah melakukan hal lain yang lebih baik.

Untuk tahun kedelapan selama berturut-turut, Christie bersama suaminya, Jorge Pabon--dikenal sebagai Master Fabel Pop, telah mengorganisir serangkaian konser musim panas gratis yang kembali menghadirkan park jams, dengan banyak nama artis hip-hop pada era mereka 30 tahun lalu. Bedanya kali ini dalam nuansa Islami.

"Rasanya seperti sebuah reuni," ujar Jorge yang juga artis hip-hop ternama sekaligus ahli sejarah yang tumbuh besar dengan menikmati park jams di Spanish Harlem. "Hampir seperti melangkah ke mesin waktu dan mengirimkan anda kembali ke masa kejayaan hip-hop," ungkapya.

Sedangkap Christie, mantan bocah Pittsburgh, kota yang berkilometer jaraknya dari Bronx memiliki peran mirip konduktor. Dengan nama-nama legenda hip-hop dalam telepon genggamnya, ia menempatkan diri di pusat dunia musik rap "old school" yang dihuni artis 'pemelihara gaya lama', pemandu hip-hop, penyiar dan pengusaha konser.

"Ia memiliki reputasi luar biasa menggelar pertunjukkan spontan hingga sekian lama," ujar seorang penyanyi hip-hop, Lord Finesse, yang tumbuh besar di Bronx dan bekerja untuk Christie bertahun-tahun. "Orang-orang membutuhkan ini. Kami butuh jurbicara urban untuk tipe musik yang kami sukai dan tepat di sanalah ia masuk," ujarnya.

Kini serangkaian konser rutin digelar. True School NYC Summer Park Jam Series, mengawali konser di Bronx pada Kamis di Taman Crotona, disusul tiga lagi pertunjukkan di taman tersebut selama bulan Juli. Rangkaian itu kemudian bergerak ke Taman St Nicholas Park, Harlem pada bulan Agustus untuk lima kali pertunjukan.

Christie dan suaminya mengorganisir pertunjukan itu dibawah bendera Tools of War, sebuah studio dan kompleks hip-hop terbuka yang mereka jalankan. Christie mengikuti kecintaannya terhadap hip-hop hingga ke New York pada 1996 yang membuat ia harus melakukan pekerjaan tak biasa ketika berupaya menghadiri acara hip-hop sebanyak mungkin yang ia tahu.

Tak lama setelah tinggal di Big Apple, ia bertemu Jorge di ulang tahun Universitas Zulu Nation, sebuah grup hip-hop di mana Jorge menjadi salah satu kru. "Saya begitu kagum mengetahui ia ada di acara itu, bahwa dia muncul di pesta ulang tahun Zulu," kenang Jorge.

Jorge pun mulai mengajari Christie tentang hip-hop dan prinsip-prinsip lebih mendalam musik tersebut sekaligus menjernihkan pemahaman selip yang ia bawa dari Perryopolis. Saat belajar itulah Christie mulai tertarik Islam ketika menemukan lirik hip-hop yang mengacu pada Allah dan Mekkah.

Ia memulai diskusi mendalam tentang Islam dengan Jorge--yang sejak awal adalah Muslim--dan membuat lompatan besar dengan menghapus stereotip yang ia usung selama ini. Pada tahun 1997, yang berarti setahun setelah pindah ke New York, Christie pun beralih memeluk Islam, tak lama usai mereka memutuskan menikah.

Dengan jilbab putih panjang menutupi kepala dan jubah berbunga-bunga yang menutupi tubuhnya, Christie menjadi figur mencolok ditengah Tools of War.  Kini, setiap saat ia hampir selalu menggunakan jilbab atau kerudung. "Kadang saya memang masih teledor dan memperlihatkan lehar," akunya.

Ia mengaku dilahirkan dalam keluarga yang ia sebut "sangat Katholik" dan belajar di sekolah Katholik mulai tingkat dasar hingga kuliah di perguruan tinggi. Namun ia berkata menerima Islam telah memenuhi kebutuhannya dalam cara baru yang berbeda.

"Kadang, ketika anda dilahirkan ke dalam sebuah agama, anda merasakan itu bukanlah yang anda inginkan," ujarnya. "Namun ketika anda memilih satu dan secara sadar, itu jauh lebih berarti bagi anda."

Ia pun memiliki harapan besar mampu mengenalkan generasi muda baru terhadap musik kecintaanya dan menciptakan pertunjukan aman bagi lingkungan tempat tinggalnya. Meski begitu ia berusaha merendah dan mengatakan motivasinya sangat sederhana. "Sesuatu yang egois, saya hanya ingin mengembalikan waktu yang pernah terlewati untuk menikmati musik ini."

Sumber : New York Times