Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Selasa, 1 Rajab 1441 / 25 Februari 2020

Pemerintah Diminta Selektif Blokir Internet Papua

Jumat 30 Agu 2019 07:56 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Indira Rezkisari

Petugas kepolisian berjaga saat berlangsungnya aksi unjuk rasa di Jayapura, Papua, Kamis (29/8/2019).

Petugas kepolisian berjaga saat berlangsungnya aksi unjuk rasa di Jayapura, Papua, Kamis (29/8/2019).

Foto: Antara/Indrayadi TH
Pemblokiran internet di Papua seharusnya dilakukan di kawasan rawan saja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan pemerintah harus bisa memilih daerah yang rawan saja untuk pemblokiran internet di Papua. Pemerintah bisa menggunakan cara lain bekerja sama dengan intelijen untuk menyelesaikan hal tersebut.

"Situasi terkini di Papua Barat memang darurat tetapi bukan berarti semua daerah di Papua internetnya di blokir. Kan bisa di daerah yang rawan saja. Namun, Pemerintah seperti melempar handuk terkait dampaknya, khususnya dari potensi pelanggaran hak-hak konsumen yang telah membeli paket internet dari operator," katanya kepada Republika, Kamis (29/8).

Kemudian, kata dia, paket internet yang telah dibeli konsumen tidak bisa digunakan secara optimal. Seharusnya, pemerintah bertanggung jawab terhadap hal ini. Telah banyak keluhan dan pengaduan konsumen terkait hal tersebut.

Banyak konsumen menuntut ganti rugi dan melakukan aksi demontrasi ke operator untuk menuntut ganti rugi. Tuntutan masyarakat sebagai konsumen adalah benar yaitu sesuai haknya. Namun, tuntutan tersebut harusnya ditujukan kepada pemerintah dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) bukan kepada operator.

"Pemerintah harus kreatif untuk hal ini. Yang sudah mengadu banyak ke saya salah satunya Telkom. Tolong dipikirkan kembali untuk tindak blokir ini karena rugi bagi konsumen yang sudah membeli atau berlangganan kepada operator terkait akses internet," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA