Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Pakar Usulkan Kemenag Buat Peta Daerah Konflik Keagamaan

Sabtu 16 Nov 2019 07:29 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Andi Nur Aminah

Pakar psikologi konflik dari Universitas Indonesia, Ichsan Malik saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pembahasan Modul Kapasitas Aparatur Negara dalam Sistem Peringatan dan Respons Dini Konflik Keagamaan (Siskama) di Bogor, Jumat (15/11). 

Pakar psikologi konflik dari Universitas Indonesia, Ichsan Malik saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pembahasan Modul Kapasitas Aparatur Negara dalam Sistem Peringatan dan Respons Dini Konflik Keagamaan (Siskama) di Bogor, Jumat (15/11). 

Foto: Republika/Muhyiddin
Dengan adanya peta daerah konflik diharapkan pencegahan konflik bisa dilakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pakar psikologi konflik dari Universitas Indonesia, Ichsan Malik mengusulkan kepada pemerintah, khususnya Kementerian Agama untuk membuat peta daerah konflik keagamaan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan pemerintah bisa melakukan pencegahan sebelum konflik itu terjadi.

Baca Juga

"Jadi saya mengusulkan pemerintah untuk membuat peta daerah konflik dan daerah damai," ujar Ichsan saat ditemui usai menjadi pembicara dalam kegiatan Pembahasan Modul Kapasitas Aparatur Negara dalam Sistem Peringatan dan Respons Dini Konflik Keagamaan (Siskama) di Bogor, Jumat (15/11).

Dia mengatakan, selama ini beberapa lembaga memang ada yang mempunyai database terkait daerah konflik keagamaan di Indonesia. Namun, kata dia, database tersebut hanya berdasarkan survei-survei pada daerah-daerah tertentu, bukan data secara keseluruhan. "Jadi kita selalu saja tidak punya database yang benar. Misalnya di mana daerah merah di Indonesia, mana daerah kuning, dan mana daerah hijau yang merupakan daerah aman," ucapnya.

Menurut dia, Kementerian Agama memiliki potensi untuk membuat database yang komprehensif terkait daerah konflik. Karena, menurut dia, Kemenag memiliki puluhan ribu penyuluh agama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. "Di depertemen agama dia punya kaki-kaki, harusnya dia mampu mengintegrasikan data itu," kata Ichsan.

Namun, tambah dia, meskipun nantinya dibuatkan database yang konprehensif percuma jika tidak dilakukan analisis terhadap data tersebut. Karena, menurut dia, analisis tersebut bisa menjadi rekomendasi untuk melakukan peringatan dan respons dini terhadap  konflik keagamaan.

"Kadang-kadang data udah ada, tapi gak ada analisis ya gak ada gunanya. Analisis ini harus menjadi rekomendasi untuk tindak respon dini," jelas Ichsan.

Sementara itu, Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) Kementerian Agama saat ini tengah mengembangkan Sistem Peringatan dan Respons Dini Konflik Keagamaan (Siskama). Dalam sistem ini rencananya akan dibuatkan tanda khusus untuk daerah rawan konflik, seperti tanda merah, kuning, dan hijau.

Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Nurudin Sulaiman memgatakan, aplikasi ini menjadi ruang penyuluh agama Kemenag untuk memberikan informasi terkait potensi konflik keagamaan di daerahnya masing-masing. "Kita memiliki aplikasi, yang diharapkan aplikasi ini tidak hanya sebagai instrumen, tetapi aplikasi ini juga merupakan sarana komunikasi untuk memberikan informasi potensi konflik dan tindak lanjut (resolusi) konflik," kata Nurudin.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA