Sabtu , 19 Agustus 2017, 17:53 WIB

Teror di Barcelona, Paling Mematikan Sejak 2004

Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Budi Raharjo
EPA/Andreu Dalmau
Petugas berjaga di area pejalan kaki di La Ramblas, pusat kota Barcelona, Spanyol, Jumat (17/8) waktu setempat. Sebuah van menabrak ke kerumunan di Plaza Katalunya, La Rambla, sehingga menyebabkan sejumlah orang cedera.
Petugas berjaga di area pejalan kaki di La Ramblas, pusat kota Barcelona, Spanyol, Jumat (17/8) waktu setempat. Sebuah van menabrak ke kerumunan di Plaza Katalunya, La Rambla, sehingga menyebabkan sejumlah orang cedera.

REPUBLIKA.CO.ID,BARCELONA -- Aksi teror dengan menabrakkan mobil ke kerumunan massa yang terjadi di Las Ramblas, Barcelona, merupakan serangan paling mematikan di Spanyol sejak Maret 2004. Ketika itu seorang militan meledakkan bom di kereta komuter di Madrid, menewaskan 191 orang.

Dari 126 orang yang cedera di Barcelona dan Cambrils, 65 masih di rawat di rumah sakit dan 17 berada dalam kondisi kritis. Orang-orang yang tewas dan terluka berasal dari 34 negara, mulai dari Prancis dan Jerman hingga Pakistan dan Filipina.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan, seorang warga Amerika dikonfirmasi tewas. Sedangkan media Spanyol mengatakan, beberapa anak terbunuh.

Saat Spanyol memulai tiga hari berkabung, orang-orang kembali ke Las Ramblas. Mereka meletakkan bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang para korban serangan teroris.

Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy dan Raja Spanyol Felipe mengunjungi alun-alun utama Barcelona di dekatnya untuk menyaksikan keheningan satu menit guna mengenang para korban. Orang-orang meneriakkan, "Saya tidak takut di Catalan."

Para pemimpin asing menyuarakan kecaman dan simpati atas peristiwa memilukan tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengungkapkan simpatinya, negaranya juga telah mengalami beberapa serangan terbaru yang paling mematikan di Eropa.

Kanselir Jerman Angela Merkel yang berbicara setelah media melaporkan bahwa beberapa orang Jerman termasuk di antara mereka yang terbunuh, mengatakan, terorisme tidak akan pernah bisa mengalahkan kita. Ia berjanji untuk terus maju dalam kampanye pemilihan umum di Jerman pada bulan September.

Raja Mohammed VI dari Maroko mengucapkan bela sungkawa ke Spanyol. Menteri Dalam Negeri Polandia Mariusz Blaszczak mengatakan, serangan tersebut menunjukkan bahwa sistem relokasi migran Uni Eropa salah. "Ini berbahaya, Eropa harus bangun," katanya.




Sumber : reuters