Ahad , 23 Januari 2011, 15:59 WIB

Sekolah Libur Gara-gara Konflik Antar Wagra di Papua

Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA - Berlarut-larutnya konflik antara dua kelompok warga di Tuni Kama, Kwamki Lama, Timika, Provinsi Papua menjadi alasan bagi pengelola SDN Kwamki I untuk tidak menggelar Kegiatan Belajar Mengajar dalam kurun waktu dua bulan terakhir sejak November 2010. Kepala SDN Kwamki I, Anton Bungaleng di Timika, Minggu mengaku dirinyalah yang meminta guru dan siswa pulang ke rumah masing-masing karena khawatir dengan keselamatan jiwa siswa bila tetap beraktivitas di tengah suasana konflik yang belum mereda.

"Saya tidak mau guru dan murid saya menjadi korban dalam pertikaian dua kelompok warga ini. Saya yang menyuruh guru dan murid pulang ke rumah mereka sampai situasi keamanan di Kwamki Lama benar-benar pulih," jelas Bungaleng.

Ia mengakui, pilihan kebijakan seperti itu tentu sangat merugikan para siswa di SDN Kwamki I, Kelurahan Harapan Kwamki Lama karena selama kurang lebih dua bulan tidak menerima pelajaran. Kerugian seperti itu, katanya, terutama dirasakan oleh para siswa kelas VI yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Menurut dia, pihak sekolah juga telah memberikan imbauan tertulis kepada warga setempat melalui orang tua murid dan tokoh-tokoh agama di Kwamki Lama agar segera mengakhiri pertikaian sehingga sekolah bisa dibuka kembali. Namun sejauh ini imbauan itu tidak pernah dihiraukan oleh warga setempat. Buktinya, selama beberapa hari belakangan situasi kamtibmas di Tuni Kama Kwamki Lama kembali memanas dengan terjadinya aksi saling serang menggunakan panah antara kelompok Kogoya dengan kelompok Aser Murib.

Pertikaian yang berlangsung pada Jumat (21/1) petang itu bahkan mengakibatkan seorang perempuan bernama Yopina Murib tewas setelah tubuhnya diberondong anak panah. Jenazah Yopina sudah dibakar oleh kerabatnya pada Sabtu (22/1), sesuai tradisi suku-suku wilayah pegunungan Papua dimana seseorang yang meninggal dalam situasi "perang" jenazahnya harus dibakar.

Saat ini beberapa orang warga dari masing-masing kelompok bahkan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) dan RSUD Mimika untuk menyembuhkan luka-luka akibat terkena anak panah. Pernyataan Anton Bungaleng dibenarkan Lurah Harapan Kwamki Lama, Yansen Magai.

Ia mengatakan selama lebih dari satu bulan ratusan siswa SDN Kwamki I tidak sekolah akibat adanya konflik antara dua kelompok warga di wilayah itu. "Kalau situasinya belum aman anak-anak takut datang ke sekolah. Demikian juga dengan guru-guru," kata Yansen.

Meski konflik di Kwamki Lama hanya melibatkan sebagian kecil warga di Tuni Kama, namun menurut Yansen hal itu tetap mempengaruhi suasana belajar-mengajar di SDN Kwamki I. Apalagi letak sekolah itu tidak berjauhan dengan pemukiman warga Tuni Kama yang hanya berjarak ratusan meter.

"Kalau masyarakat ribut, tentu akan mempengaruhi suasana anak-anak yang menerima pelajaran di kelas. Pasti akan sangat mengganggu, belum lagi keselamatan guru dan anak-anak tidak terjamin," tutur Yansen.

Ia mengatakan, saat ini terdapat ratusan anak usia sekolah SD di Kwamki Lama yang libur sejak bulan November. Anak-anak itu, katanya, setiap hari hanya berkeliaran di sekitar Kwamki Lama. Sebagian siswa yang lain sudah pindah ke beberapa sekolah lain di sekitar Kwamki Lama seperti SDI Timika 3 Kampung Karang Senang-SP3 dan SD YPPGI Kwamki Lama.

Akibat konflik yang berkepanjangan di Kwamki Lama, pada bulan Mei 2010 puluhan peserta UASBN SDI Kwamki I harus mengikuti ujian di SD YPK Ebenhaezer Gorong-gorong Timika. Saat itu, anak-anak SDN Kwamki I dijemput dan diantar kembali ke rumah mereka dengan menggunakan truk Dalmas Polres Mimika setelah mengikuti UASBN.

Sedangkan SMP YPPGI Abdiel Tinal Kwamki Lama sudah memindahkan lokasi kegiatan belajar mengajarnya di Kwamki Baru Timika sejak April 2010 menyusul tewasnya salah seorang siswa sekolah itu setelah diterjang puluhan anak panah dari salah satu kelompok warga yang bertikai di Kwamki Lama.

Sumber : Antara