Selasa , 12 Februari 2013, 06:34 WIB

Oposisi Tutup Paksa Kantor Imigrasi Pusat Mesir

Red: Heri Ruslan
Republika/Nasihin Masha
Spanduk anti Mursi di Kairo, Mesir.
Spanduk anti Mursi di Kairo, Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO --  Demonstran dari oposisi anti-pemerintah Mesir pada Senin secara paksa menutup Kantor Imigrasi Pusat di Bundaran Tahrir, ikon revolusi di Kairo.

"Ditutup hingga (Presiden Mohamed) Mursi mengundurkan diri," demikian tulisan di lembaran kertas yang ditempelkan di pintu utama imigrasi.

Kantor Imigrasi Pusat yang oleh warga setempat disebut "Mogamma Tahrir" itu memang terletak di sisi barat Bundaran Tahrir.

Sajumlah aparat keamanan berpakaian sipil melakukan penjagaan ketat di depan pintu imigrasi.

"Hari ini (Senin, 11/2), imigrasi ditutup total sejak pagi, para pegawai dilarang masuk oleh demonstran," kata Abou Ahmed, seorang aparat berpakaian sipil yang mengaku berpangkat perwira polisi.

Beberapa wartawan asing yang sedang mengurus visa di imigrasi itu mengeluh akibat penutupan tersebut.

"Paspor saya sudah sepekan lalu di Press Center di Mogamma Tahrir untuk perpanjang visa," kata Angela, seorang wartawati Kanada.

Sementara itu, ribuan demonstran anti-pemerintah pada Senin (11/2) petang membanjiri Bundaran Tahrir untuk berunjuk rasa memperingati dua tahun tumbangnya Presiden Hosni Mubarak.

Rezim Mubarak tumbang pada 11 Februari 2011, 18 hari setelah pemberontakan rakyat yang bermula pada 25 Januari 2011 yang kemudian dikenal dengan "Revolusi 25 Januari".

Satu kelompok radikal berjulukan "Black Block" mengancam akan kembali menyerang Istana Presiden Al Ettihadiyah, kediaman resmi dan tempat kerja Presiden Mursi.

"Black Block", kelompok pemuda berpakaian serba hitam dan bertopeng itu disebut-sebut bertanggung jawab atas aksi kekerasan di luar Istana Presiden pada Jumat dua pekan lalu.

Aksi kekrasan anatara ratusan pengunjuk rasa dan aparat keamanan itu menewaskan satu orang dan ratusan lagi cedera.

Rentetan aksi kekerasan sejak HUT ke-2 Revolusi 25 itu menewaskan sedikitnya 60 orang.

Bentrokan paling hebat terjadi di Port Said, Terusan Suez dan Ismailiyah yang memaksa Presiden Moursi memberlakukan jam malam selama sebulan di tiga kota tersebut.

Sumber : Antara