Jumat , 06 October 2017, 17:36 WIB

Saudi Bongkar Rencana ISIS Serang Kementerian Pertahanan

Red: Teguh Firmansyah
VOA
Gerakan ISIS (ilustrasi)
Gerakan ISIS (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi membongkar jaringan ISIS di ibu kota Riyadh. Anggota ISIS itu dikabarkan berencana melancarkan serangan bunuh diri terhadap kementerian pertahanan.

"Dua gerilyawan tewas dan lima lagi ditangkap dalam serangan di tiga tempat pada Rabu," kata sumber resmi dari pihak keamanan negara itu dalam pernyataan di saluran televisi pemerintah, Kamis (9/6)

Sejumlah serangan bom dan penembakan mematikan dilancarkan gerilyawan terhadap pasukan keamanan dan masyarakat muslim Syiah di Arab Saudi. ISIS selama beberapa tahun belakangan mengecam pemimpin kerajaan sekutu Barat dan penghasil terbesar minyak dunia itu.

Kelompok ekstrem ini menuduh kerajaan tersebut menyimpang dari hukum Islam dan membela kepentingan Amerika Serikat, yang adalah musuh mereka.

Dalam penggerebekan, seorang pelaku bom bunuh diri di Distrik al-Rimal, Riyadh timur,  meledakkan rompi peledaknya. Ia meledakkan diri setelah pasukan keamanan mengepung sebuah rumah yang digunakan untuk membuat rompi bunuh diri dan meracik bahan peledak.

"Seorang gerilyawan lain tewas oleh pasukan keamanan setelah bersembunyi dengan membawa senjata api di sebuah apartemen di distrik al-Namar," kata sumber.

Serangan ketiga terjadi di sebuah kandang kuda di al-Ghanamia, Riyadh selatan. Menurut pernyataan itu, tempat tersebut telah digunakan sebagai sebuah markas utama.

Televisi pemerintah setempat melaporkan dalam gambar video ketika pasukan keamanan menyita senjata api dan bahan pembuat bom, dengan latar mobil yang terbakar dan sebuah bangunan yang rusak, tempat seorang gerilyawan meledakkan dirinya. Para tersangka tidak diketahui jatidirinya.

Pasukan keamanan menutup beberapa daerah di Riyadh pada Rabu, dan video yang dibagikan secara berjaringan memperlihatkan segumpal asap membumbung naik dari sebuah lokasi.

Rencana untuk menyerang kementerian pertahanan terungkap pada bulan lalu, diduga melibatkan dua warga Yaman dan dua warga Saudi. Sumber keamanan Saudi mengatakan bahwa salah satu dari tersangka ditahan itu adalah anggota gerakan bersenjata Houthi, yang terlibat perang di Yaman.

Berita Terkait